
Matahari bersinar hangat pada Senin (14/7/25) pagi. Raut wajah polos berseragam baru putih merah memasuki gerbang SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo.
Pagi itu merupakan hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di hampir semua sekolah dari SD, SMP sampai SMA, termasuk di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Sdamada).
Kegiatan MPLS dimulai pada pukul 06.50 hingga 10.00. Ada 80 murid baru untuk tahun ajaran 2025-2026 yang terbagi dalam tiga kelas. Murid-murid dibagi menjadi tiga dengan masing-masing nama kelompok yakni Cerdas, Kreatif, dan Mandiri.
Nama kelompok ini disesuaikan dengan visi Sdamada, yakni “Terwujudnya Generasi Muslim yang Berakhlak Mulia, Cerdas, Kreatif dan Mandiri.” Pukul 06.15, para guru dengan dresscode putih biru berdiri di koridor sekolah untuk menyambut kedatangan murid baru. Anak-anak tampak ceria dan banyak yang mulai berani masuk kelas sendiri tanpa didampingi orang tuanya.
Sementara itu, orang tua diarahkan menuju auditorium Sdamada untuk mengikuti seminar parenting kelas 1 dengan tema “Generasi Hebat Lahir dari Sinergi yang Erat antara Orang Tua dengan Sekolah”. Pemateri parenting ini adalah Akhmad Fauzi, S.Pd.I., salah seorang trainer dari Griya Parenting Indonesia.
Acara seremonial diawali dengan pembukaan. Dilanjutkan dengan pembacaan kalam ilahi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars Sdamada. Sambutan pembuka oleh kepala sekolah. Kemudian ditutup dengan doa.
Ibarat Merawat Tanaman
Kepala Sdamada Alfiatun Naimah, S.Si., S.Pd, dalam sambutannya mengatakan, mendidik anak seperti merawat tanaman. “Maka sang perawat tanaman harus tahu bagaimana cara merawat tanaman tersebut agar tumbuh subur sesuai dengan harapan,” ujar epala SDAMADA dalam sambutan pembuka.
“Maka parenting ini diadakan dengan tujuan untuk mengingatkan kembali kepada kita, sebagai orang tua, bagaimana mendidik anak dengan baik,” sambungnya.
Selain itu, Ya’qub Chamidi, S.Si., M.Pd, Wakil Kepala Sdamada menyitir hadits yang berkaitan dengan tiga perkara di akhirat yang terus mengalir meskipun seseorang telah tiada.
“Yakni hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah, ‘Seorang manusia yang meninggal dunia, seluruh amalnya putus, kecuali tiga hal yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan’. Pada kesempatan berharga ini, akan dipaparkan lebih dalam makna hadits tersebut,” jelasnya.
Pada acara inti, Ustaz Fauzi menyampaikan, sinergi antara orang tua dan sekolah dalam pembelajaran sangat penting. Orang tua hendaknya mengetahui jadwal pelajaran sekolah dan memberikan refleksi atau feedback, atas kegiatan rutin sekolah yang disampaikan guru.
“Orang tua juga diharapkan bertanya kepada guru mata pelajaran atau wali kelas, jika ada masalah dalam belajar anak,” lanjut sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Sidoarjo periode 2022-2027 ini.
Untuk menyelesaikan masalah sosial anak, lanjutnya, perlu sharing karakter unik anak ke guru dan tabayyun informasi ke sekolah. “Hindari mengambil kesimpulan sendiri sebelum tabayyun,” tutur Ustaz Fauzi. (#)
Jurnalis Nana Liesdiana. Penyunting Darul Setiawan.